Profil Piyana, Talitha, Salsa, Quinsa, dan Levina, Pelajar MAN Karo Peraih Emas WICE 2026

Piyana, Talitha Putri Br Ginting Suka, Salsa Nabila, Quinsa Dikta Arisya, dan Levina Br Karo berhasil membawa nama Indonesia ke panggung internasional setelah meraih Gold Medal atau medali emas pada World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia.

Kelima pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Karo tersebut mendapatkan penghargaan melalui inovasi bernama ECORED, sebuah gagasan pembuatan pelet pakan ikan dengan memanfaatkan limbah eceng gondok dan ikan Red Devil yang berasal dari kawasan Danau Toba.

Prestasi tersebut menjadi menarik bukan hanya karena mereka berhasil memperoleh medali emas dalam kompetisi internasional, tetapi juga karena inovasi yang mereka bawa berangkat dari persoalan lingkungan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.

Siapa Piyana, Talitha, Salsa, Quinsa, dan Levina?

Piyana, Talitha Putri Br Ginting Suka, Salsa Nabila, Quinsa Dikta Arisya, dan Levina Br Karo merupakan siswa MAN Karo yang tergabung dalam tim pengembang ECORED.

Mereka mengembangkan gagasan yang menghubungkan persoalan lingkungan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam bidang pakan ikan.

Informasi resmi Kementerian Agama menyebut kelima siswa tersebut sebagai pengembang ECORED. Tim ini mendapatkan pendampingan dari Harsona Sinurat dalam proses pengembangan karya hingga mengikuti kompetisi internasional di Malaysia.

Prestasi mereka menunjukkan bahwa karya inovasi pelajar tidak harus berangkat dari laboratorium besar atau teknologi yang mahal. Persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber ide untuk menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai manfaat.

Prestasi Internasional Piyana dan Tim di WICE 2026

Prestasi Piyana dan empat rekannya diraih pada World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 yang diselenggarakan di SEGi University, Malaysia, pada 20–24 September 2026.

Dalam ajang tersebut, karya ECORED berhasil mendapatkan Gold Medal.

WICE merupakan salah satu ajang yang menjadi ruang bagi peserta untuk menampilkan dan mempresentasikan berbagai gagasan serta inovasi. Bagi tim MAN Karo, kompetisi tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk membawa persoalan lokal dari kawasan Danau Toba ke forum internasional.

Kementerian Agama mencatat bahwa keberhasilan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa siswa madrasah Indonesia mampu menghasilkan karya yang mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

Mengenal ECORED, Inovasi yang Mengantarkan Mereka Meraih Emas

ECORED merupakan inovasi berupa pelet pakan ikan yang memanfaatkan eceng gondok dan ikan Red Devil.

Ide tersebut berangkat dari dua persoalan yang terdapat di kawasan Danau Toba. Di satu sisi, terdapat eceng gondok yang dapat tumbuh dan memenuhi wilayah perairan. Di sisi lain, terdapat ikan Red Devil yang dikenal sebagai ikan invasif dan dapat menjadi persoalan bagi keseimbangan ekosistem perairan.

Tim ECORED mencoba melihat kedua persoalan tersebut dari sudut pandang berbeda.

Alih-alih hanya menganggapnya sebagai masalah lingkungan, bahan-bahan tersebut dicoba untuk dimanfaatkan sebagai bagian dari pembuatan pakan ikan.

Pendekatan inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama ECORED: mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang inovasi.

Menurut penjelasan Kementerian Agama, ECORED dikembangkan dengan gagasan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat. Konsep tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat membuat pakan ikan secara mandiri sekaligus mengurangi bahan yang berpotensi mengganggu lingkungan perairan.

Berawal dari Persoalan Lingkungan di Danau Toba

Salah satu hal yang membuat prestasi tim MAN Karo menarik adalah sumber ide penelitiannya.

ECORED tidak dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan sebuah kompetisi. Gagasan tersebut berangkat dari pengamatan terhadap permasalahan yang ada di lingkungan sekitar.

Eceng gondok dan ikan Red Devil yang sebelumnya dipandang sebagai bagian dari persoalan ekosistem kemudian dicoba untuk dimanfaatkan menjadi bahan inovasi.

Pendekatan seperti ini memperlihatkan pentingnya kemampuan pelajar dalam mengidentifikasi masalah, mencari alternatif solusi, melakukan pengembangan ide, dan mengomunikasikan hasilnya.

Dengan demikian, nilai dari ECORED tidak hanya terletak pada medali emas yang diperoleh, tetapi juga pada proses pembelajaran yang terjadi selama pengembangan inovasi.

Konsep Pelet Ikan dengan Bahan yang Ada di Sekitar

Salah satu konsep yang dikembangkan dalam ECORED adalah pemanfaatan bahan lokal sehingga pembuatan pakan ikan diharapkan dapat dilakukan dengan biaya bahan baku yang lebih rendah.

Kementerian Agama menyebut konsep ECORED sebagai inovasi yang memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar. Gagasan tersebut juga diarahkan agar masyarakat dapat membuat pakan ikan secara lebih mandiri.

Namun, penting untuk membedakan antara gagasan inovasi dan klaim bahwa produk tersebut sudah siap digunakan secara luas.

Prestasi di WICE 2026 menunjukkan bahwa ECORED memperoleh pengakuan dalam kompetisi inovasi. Sementara itu, penerapan lebih luas sebagai produk pakan ikan tetap memerlukan pengujian dan pengembangan lebih lanjut sesuai standar yang berlaku.

Peran Guru dalam Perjalanan ECORED

Prestasi Piyana, Talitha, Salsa, Quinsa, dan Levina tidak terlepas dari pendampingan guru.

Karya ECORED dikembangkan di bawah bimbingan Harsona Sinurat. Pendampingan tersebut mencakup proses pengembangan gagasan hingga persiapan mengikuti kompetisi internasional.

Dalam proses seperti ini, siswa tidak hanya dituntut menghasilkan produk. Mereka juga perlu memahami masalah yang menjadi dasar penelitian, menyusun gagasan, mengembangkan inovasi, serta mampu menjelaskan karya kepada juri.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan berbasis proyek dan inovasi karena siswa belajar menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah dengan persoalan nyata.

Apresiasi dari MAN Karo

Kepala MAN Karo, Ashari Fahmi, mengapresiasi pencapaian para siswa.

Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa siswa madrasah mampu menghasilkan karya yang dapat bersaing di tingkat internasional. Ia juga berharap pencapaian ECORED dapat mendorong siswa lainnya untuk berani berinovasi dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan ECORED tidak hanya dipandang sebagai pencapaian lima siswa, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mendorong budaya inovasi di lingkungan madrasah.

Mengapa Prestasi Ini Penting?

Ada setidaknya tiga alasan mengapa prestasi Piyana, Talitha, Salsa, Quinsa, dan Levina layak mendapat perhatian.

Pertama, mereka membawa persoalan lokal ke tingkat internasional.

Danau Toba menjadi sumber inspirasi utama dalam pengembangan ECORED. Persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitar kemudian diolah menjadi gagasan yang dipresentasikan di kompetisi internasional.

Kedua, inovasi mereka menggabungkan pendidikan dan kepedulian lingkungan.

Para siswa tidak hanya mengejar penghargaan, tetapi juga mencoba melihat bagaimana bahan yang dianggap sebagai masalah dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai.

Ketiga, prestasi ini menunjukkan potensi siswa madrasah.

Gold Medal WICE 2026 menjadi bukti bahwa siswa madrasah memiliki kesempatan untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuan mereka di tingkat internasional ketika memperoleh pembinaan dan ruang untuk mengembangkan gagasan.

Profil Singkat Tim ECORED

Nama

Keterangan

Piyana

Siswa MAN Karo dan anggota tim pengembang ECORED

Talitha Putri Br Ginting Suka

Siswa MAN Karo dan anggota tim pengembang ECORED

Salsa Nabila

Siswa MAN Karo dan anggota tim pengembang ECORED

Quinsa Dikta Arisya

Siswa MAN Karo dan anggota tim pengembang ECORED

Levina Br Karo

Siswa MAN Karo dan anggota tim pengembang ECORED

Kelima nama tersebut tercantum dalam informasi resmi Kementerian Agama sebagai siswa MAN Karo yang mengembangkan ECORED dan meraih Gold Medal pada WICE 2026.

Dari MAN Karo hingga Panggung Internasional

Perjalanan ECORED memberikan pesan penting bahwa inovasi dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

Piyana, Talitha, Salsa, Quinsa, dan Levina melihat persoalan yang ada di sekitar Danau Toba, kemudian mencoba mencari cara agar persoalan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

Hasilnya, gagasan tersebut dibawa ke World Invention Competition and Exhibition 2026 di Malaysia dan berhasil mendapatkan Gold Medal.

Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi MAN Karo sekaligus menambah daftar pencapaian pelajar Indonesia di kompetisi internasional.

Lebih dari sekadar medali, ECORED memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, kerja sama, dan keberanian untuk mempresentasikan ide dapat menjadi modal penting bagi pelajar untuk bersaing di tingkat global.

 

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال